Naik Transjakarta Plus Trafi – Fall in Love at The 1st Experience (part-1)

Saya berniat mencoba lagi naik Transjakarta sejak empat minggu lalu. 

Kemudian saya browsing dan dapat rekomendasi untuk mengunduh aplikasi Trafi. Aplikasi semacam Google Maps namun berisi panduan menggunakan angkutan umum.

Trafi ini saya “anggurin” selama seminggu. 

Dua minggu lalu, saya mulai pakai Trafi. Saya coba tes berapa lama, naik apa, dan bayar berapa jika saya bertolak dari kantor saya di Mega Kuningan menuju tempat tinggal saya di Kebon Jeruk.

Okeh!

Ternyata waktu tempuh di jam padat (saat pulang kantor) berkisar 1 jam. Tapi… saya harus tahu arah, karena untuk menjangkau angkot atau Transjak terdekat, saya harus jalan kaki setidaknya 15 menit.

BYE!

Saya pesan Go-Jek saja..

Di hari ganjil, saya bawa mobil. Sambil ngedumel di perjalanan karena neraka macet dan tarif parkir selangit. Gini amat ya orang nyari nafkah.

Lalu, di hari Jumat pekan lalu, saya coba naik angkot. Ceritanya mau ke Tanah Abang – di sana opsi angkutan umum ke arah rumah saya sudah banyak.

Ternyata saya salah naik angkot. Rute terakhir angkot ini hanya sampai di putaran balik Karet. Jadilah saya hanya naik angkot sebentar dan kembali memesan angkutan pribadi. 

Beberapa kali, niat mencoba naik Transjakarta datang lagi. Ya, dalam periode nyaris sebulan ini lah.. Tapi ada ganjalan lain. E-money.

Beberapa kali saya lupa ambil dari mobil, sampai akhirnya saya sadar kartu itu ternyata hilang. Lalu saya ada kartu e-money lainnya tapi saldonya Rp 0.

Saya tak berdiam diri. Saya coba isi di ATM Mandiri di lobby kantor saya. Ehhh.. selalu gagal. 

Sampailah pada hari bersejarah ini. Saya masih gagal isi e-money dan selalu lupa isi di Alfamart dekat rumah saya — TAPI saya beranikan diri jalan kaki ke halte Transjakarta di Gatot Subroto. 

Dan saya bertekad, harus sampai ke Kebon Jeruk dengan naik satu moda saja: TRANSJAKARTA. 

Advertisements

Ortu Cuek atau Tak Tahu Tik Tok?

Pertengahan Juni 2018 saya silaturahim ke rumah nenek saya. Di sana, berkumpul adik – adik sepupu saya yang usianya 3 – 12 tahun. Ada dua orang yang sedang asyik melihat layar ponsel ibunya. 

Lalu adik sepupu yang kelas 5 SD nyeletuk, “eh, kamu sudah lihat video Tik Tok ku yang baru…?”

Lalu ada satu lagi adik sepupu yang bergabung ngerumpi soal Tik Tok.

Saat itu, yang saya tahu, Tik Tok adalah aplikasi media sosial seperti Smule. Pengguna bisa karaoke dan bergaya. Namun saat itu saya mengidentikkan Tik Tok dengan aplikasi karaoke khusus lagu dangdut

Hampir sebulan berlalu, saya sudah di Jakarta. Saat menemani adik saya mengurus SIM, adik saya tiba – tiba mengulas topik Tik Tok.

Kamu tahu Bowo gak, Kak. Sekarang lagi heboh soal itu. Bahkan di Facebook ada user yang bikin status, “rela jual ginjal ortu demi ketemu Bowo”

Sayapun menyimak penjelasan adik saya sembari melihat printscreen para penggila Bowo di medsos.

Usai obrolan, saya membuka Instagram stories dan melihat lagi tema Bowo. Salah satu teman saya di IG mengecam tindakan Bowo yang menurutnya adalah penyalahgunaan media sosial DEMI KETENARAN PRIBADI. Dia rela di-bully demi terkenal di jagat maya. 

Kembali ke adik – adik sepupu saya. Meski masih SD, mereka sudah sangat familiar dengan ponsel. Di rumah mereka ada wi-fi. 

Thanks to Telkom yang sudah menjangkau pulau terpencil seperti Wakatobi. Ya, di sana ada kabel fiber optic sehingga layanan internet 4G bisa dinikmati. 

Anak – anak di kampung saya bisa setara pengetahuannya dengan anak lain di penjuru dunia karena akses internet sudah terbuka. 

Terbukanya akses internet juga membuat mereka aware dengan apa yang sedang HITS, termasuk Tik Tok.

Sayangnya – orang tua mereka, sependek pengamatan saya yang hanya seminggu di kampung – belum mampu menjadi pembatas terhadap apa yang diakses anak mereka di medsos.

Mereka tak tahu, tak begitu tahu apa Tik Tok, untuk apa dan apa potensi bahayanya jika anak mengakses berlebihan dan melihat konten yang tidak pantas untuk anak. 

Termasuk bahwa Tik Tok sebenarnya juga punya nilai kebaikan. Misalnya, anak – anak yang tidak pede bernyanyi di depan orang beneran kini bisa ekspresif. Mungkin saja ada potensi penyanyi seperti vokalis Sabyan Gambus yang lahir karena Tik Tok. Mungkin..

Mungkin juga lahir video editor pro di usia belia karena sering utak – atik Tik Tok. 

INI OPINI SAYA:

Ketidaktahuan berujung pada sikap cuek. Ah, Tik Tok sama sajalah dengan video lain di YouTube. Ya video tutorial membuat slime, video lagu babyshark, dan seterusnya – begitu benak para Mama..

Barulah mungkin pada saat Menkominfo Rudiantara hari ini memutuskan Tik Tok diblokir, para ortu mulai ada tanya dan mengkritisi bahaya Tik Tok untuk anak.

Kalau yang saya baca dari Kompas.com, Kominfo sudah menerima lebih dari 2.000 laporan sekaligus petisi untuk memblokir aplikasi itu.

Prediksi saya, satu diblokir, akan hadir Tik Tok lainnya. 

Kalau sudah begini, kita diingatkan akan tugas signifikan dari Revolusi Mental. Eh, masih ada kah?

Menaklukkan Ketakutan Kerja “dari Rumah”

Biasanya Mama akan diam saja jika saya cerita berbagai pengalaman mendebarkan sepulang saya liputan ke luar kota.

Bukan mendebarkan yang gimana – gimana sih.

Yang jelas, anaknya ini pernah disopiri mobil kantor yang dalam waktu kurang dari tiga jam bisa sampai di Indramayu.

Pesawat yang ditumpangi anaknya ini juga pernah nyaris terhempas angin saat beberapa kaki lagi mendarat di Tanjung Pinang.

Jangan tanya soal makan sembarangan, kurang tidur, kurang uang, dan jadwal pulang yang tak pasti. Semua hal yang tidak diinginkan seorang Ibu kepada anak perempuannya. 


Sama dengan ibu lain yang “satu zaman” Mama membayangkan anaknya ke kantor dengan baju Korpri. Jadi PNS saja, masa depan jelas, gak sibuk..

Kalau bisa kerja dari rumah deh.. 

Lama – lama saya berpikir, dan merasa (karena sudah jadi istri), kerja dari rumah should be my another dream job.

Ini Juni 2018, dan harapan itu jadi nyata. 

Di pekan pertama saya di kantor baru, saya boleh dibilang hanya, in total,  48 jam “masuk kantor”. Selebihnya, saya bekerja remote.

“Ah, Ky, jangan kerja dari rumah, ke-distract lu entar…”

Benar juga.. Rumah adalah zona nyaman. Mau makan bisa, bikin kopi gampang, toilet stand by, ngantuk tinggal tidur, setrikaan tidak numpuk, dan seterusnya.

FAKTANYA.. 

none of the above…!

Tapi saya harus akui, nonton 3 episode Game of Throne adalah pengecualian. Di malam hari sebelum tidur, saya tak kuasa menahan hasrat untuk menonton.. 

JADI, di pekan pertama ini, saya sibuk mengumpulkan kepingan puzzle. Saya masuk dan membaca banyak sekali file di laptop kantor yang baru diserahkan ke saya di hari keempat bekerja (terima kasih pemerintah memberi libur karena Pilkada).

Kesibukan ini juga dipersembahkan oleh event kantor terdekat yang akan berlangsung kurang dari sepekan lagi.

Jadilah saya kepoin laptop, menyiapkan event dan menelpon sana – sini vendor yang akan terlibat. 

Saya juga sudah bertandang ke dua kantor lain untuk rapat dengan council member di tempat saya bekerja.

Karena masih sibuk, sejauh ini belum terjadi kekhawatiran bahwa saya tidak akan produktif karena tidak kerja di kantor.

ATAU

saya tidak akan produktif karena tidak ada jam kerja yang jelas. 

Yang pasti, keuntungan tambahan yang saya dapat dari keleluasaan “bekerja dari rumah” ini adalah semangat untuk blogging dengan target satu hari satu artikel👏🏻. 

Kecanggungan yang saya alami karena kerja dengan flexible time inilah yang menggugah empati saya terhadap para pegiat startup di luar sana. 

Ttd Anak Bawang di dunia remote working. 

Jadi Eks-Jurnalis, Sudah Boleh Pamer Pilihan Politik?

Tidak satu kali ada teguran melayang ke anak reporter, presenter, dan bahkan kameramen karena mem-posting konten terkait pilihan politiknya ke media sosial.

Jadi, saya sebut saja mereka jurnalis, terbagi dalam tiga tipe. Ada yang:

1. “Ah, cuma posting ini”, 

2. “Hmm, pakai simbol ala – ala aja..”

3. Big NO untuk posting soal preferensi politik”

Saya, waktu itu sempat jadi tipe yang pertama. Namun, karena redaksi mengecam simbol politik apapun meluncur ke medsos pribadi kami, akhirnya saya berusaha keras untuk turun level ke nomor 2 bahkan 3.

Faktanya, beberapa (ya, bukan satu orang) jurnalis di Indonesia kehilangan pekerjaan karena menampilkan pilihan politiknya di medsos.

Dan, pilihan politik tak hanya soal kekaguman terhadap kandidat nomor 1, 2 atau 3 – tetapi juga soal apakah seorang jurnalis pro/kontra terhadap suatu kebijakan, suatu ormas, atau suatu campaign. 

Kekakuan ini masih terbawa meski predikat jurnalis sudah tercabut dari saya.

Konkretnya, di hari ini, saat Pilkada berlangsung di 13 provinsi dan banyak kabupaten / kota.

Sampai hitung cepat selesai, saya tidak berani gamblang menorehkan saya dukung siapa. Oh ya, saya ber-KTP Jakarta. 

Tapi, saya punya preferensi politik di tempat saya besar, yakni di Makassar. Saya juga menaruh perhatian pada Pilkada Jawa Barat, change maker dalam tiap Pemilu Presiden. (Jawa Barat punya jumlah pemilih terbesar di Indonesia).

Lantas, karena sudah tak lagi jadi jurnalis, apakah saya sudah boleh pamer pilihan politik? Mestinya boleh…

Sampai detik ini, saya kok masih ingin mempertahankan tradisi di tempat saya bekerja dulu. Saya tetap ingin preferensi politik cukup diimani sendiri saja, tanpa diumbar ke khalayak maya.


Keuntungannya, saya lebih bisa open minded pada pilihan yang berseberangan. Dan, yang menurut saya, yang juga penting dengan tindakan status quo di medsos adalah menghilangkan stres.

Setidaknya, saya tak perlu insecure kalau jagoan saya dimaki – maki kawan dekat saya. Atau bahkan, kalau dia kalah, saya juga nothing to lose.

Untuk soal dukungan ke kampanye atau gerakan, saya juga tak perlu patah hati kalau di kemudian hari, gerakan itu ternyata hanya jadi kendaraan politik tokoh oportunis. 

Nah, pada saat saya menulis ini, saya sempat mampir ke laman Instagram saya.

Uniknya, di Home saya, ada kawan yang aktif jadi jurnalis dan mengunggah poster ajakan dukungan salah satu kandidat.

Untung kandidat itu menang berdasarkan quick count. Hehe.
___________

Catatan:

Featured photo credit: bangkapos.com

Foto printscreen: kompas.com

Sudah Tak Jadi Wartawan, Notif Whatsapp pun Sepi ~

Sebelum benar – benar resign, saya menjalani kewajiban one month notice. Dalam masa one month notice, saya harus mengumpulkan tanda tangan beberapa manager dan penanggung jawab di perusahaan.

Dua minggu sebelum tanggal resign, saya melakukan clearance di warehouse. Tujuannya, agar saya benar – benar bersih (clear) dari peminjaman alat – alat milik kantor.

Berturut – turut clearance saya lakukan ke bagian penanggung jawab email kantor, ke bagian Finance, HR, dan General Affairs – hingga akhirnya clearance terakhir, email saya dimatikan, lalu kartu akses pintu dan tanda pengenal saya dikembalikan.

Ada kira – kira 10 orang yang harus saya temui untuk dimintai tanda tangan, pertanda aspek – aspek yang saya uraikan tadi sudah clear.

Lalu, pada saat hari terakhir tiba, 11 Juni 2018, saya mulai merasakan transisi. Saya pamit dari grup – grup Whatsapp yang berhubungan dengan koordinasi terkait pekerjaan.

Di Departemen Digital saja, saya tergabung ke setidaknya lima grup Whatsapp.

Belum lagi, di Departemen News Gathering, saya juga tergabung ke grup Whatsapp yang traffic-nya sangat tinggi. Di grup itu para warrior di newsroom berkumpul. Ada reporter, kameramen, koordinator liputan, koordinator live hingga koordinator peliputan daerah.

Kenapa grup itu selalu ramai?

Karena, selain koordinasi, undangan peliputan, rilis pers, hingga rundown berita dituangkan di grup tersebut.

Belum lagi, ada beberapa isu peliputan yang ditimpali kritis oleh para warrior di lapangan.

Promosi produk, info diskon, lelucuan di dunia maya, pun jadi konten yang membuat notifikasi di grup Gathering pantang ada rentang walau sedetik.

Saya ingat, waktu kejadian bom Thamrin tahun 2016, ada 400 pesan tak terbaca. Kala itu saya bangun subuh di Glasgow, kota yang zona waktunya 7 jam di belakang Jakarta.

Nah, pada 12 Juni 2018, saya bangun di pagi hari dengan ritual yang sama. Mematikan alarm dan mengecek Whatsapp dengan melakukan swipe up di layar ponsel pintar berlogo apel milik saya.

Sepi.

pexels-photo-46924.jpegIlustrasi Whatsapp – Photo by Anton on Pexels.com

Saya tidak benar – benar pergi dari grup Whatsapp yang masih ada hubungannya dengan profesi jurnalis. Saya bertahan di grup Whatsapp yang memang membolehkan mantan jurnalis tetap bergabung. Dan grup inilah yang jadi berharga meski tak lagi ber-kartu pers.

Ya beginilah.. Kala itu, saya mengeluh, sulit sekali beristirahat dari pekerjaan karena beragam notifikasi itu. Bahkan saat cuti pun, jemari ini gatal untuk mengecek tang – ting tang – ting bunyi notifikasi Whatsapp.

Tapi sekarang, kok rasanya sepi dan no adrenaline rush. Hehe…

Ala bisa karena biasa. Sekarang ini saya sedang belajar menambah kecepatan merespon email.

Di pekerjaan baru, saya dituntut untuk melakukan komunikasi di email dengan hampir sama cepatnya dengan membalas suatu instruksi lewat Whatsapp.

Plus, narasi yang saya buat harus dalam bahasa Inggris dan seformal mungkin.

Hmm.. saya jadi teringat quotes dari Steve Jobs. We don’t know where it lead. We just know that there is something much bigger than any of us.

Resign – Mengakhiri Karir Sebagai Wartawan

Wartawan pernah jadi cita – cita saya. Lalu berganti dengan sering, seiring terbukanya pergaulan saya saat kuliah S1 di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Oops, apalagi saya sudah jadi mahasiswa hukum saat itu.

Pilihan pekerjaan anak hukum umumnya adalah praktisi (hakim, jaksa, pengacara, dsb) atau jadi dosen, atau kerja di belakang meja sebagai HR, konsultan, dan sebagainya.

Tapi ya, namanya garis tangan.

Belum selesai kuliah saya di Unhas, saya mencicipi pengalaman jadi wartawan televisi di CelebesTV. Saat itu adalah televisi lokal yang baru hadir di Sulawesi Selatan (circa 2011).

Lalu saya diwisuda dengan semangat ingin jadi wartawan di Jakarta. Harus di Jakarta, saat itu dengan tengilnya saya merasa sudah menaklukkan “lapangan” di Makassar. Saya ingin kompetisi yang lebih luas.

Akhirnya, 17 Desember 2012 saya menempelkan kartu ID ke mesin absen di KompasTV di kantornya yang masih gres di Palmerah, Jakarta Barat.

Tahun – tahun berlalu dengan asyiknya. Saya terlarut dengan profesi ini, jika tak ingin dibilang cinta.

Screen Shot 2018-06-25 at 17.46.00
Setiap karyawan KompasTV harus punya ini. Exit employee interview disertai dengan pengembalian tanda pengenal.

Profesi ini membawa saya menjangkau banyak tempat, termasuk tempat – tempat pengambilan keputusan, seperti Istana Kepresidenan, pengadilan, dan pusat krisis saat terjadi berbagai bencana alam.

Profesi ini pula yang tidak bisa saya elakkan telah membawa saya meraih beasiswa LPDP untuk lanjut kuliah di luar negeri.

Di satu tahun terakhir saya, saya bahkan mencicipi dunia baru, yakni redaksi digital. Saya berpraktik, mendapat pelatihan, dan membuka jaringan baru. Di posisi ini, saya menjadi trainers Google News Lab Indonesia yang membawa misi melatih jurnalis menghindari berita hoaks.

Tapi, lagi – lagi sudah jadi garis tangan.

Arah angin membawa saya meninggalkan dunia yang sudah jadi zona nyaman saya. Orang – orang terdekat pun menantang saya untuk mencari tantangan. Agar terasah potensi dan terpakai ilmu saya, begitu kata mereka.

Tapi, keputusan kuambil bukan karena kata siapa – siapa. Pertimbangan eksternal dan internal dan kesadaran pribadi lah yang membuat saya keluar trayek.

26 Juni 2018, saya tiba di pagi hari yang sejuk dan gerimis di sebuah gedung mentereng di Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Di sinilah, saya akan memulai pergaulan baru, bergelut dengan isu baru, dan memulai status sebagai karyawan baru.

Saya tak bisa lihat apa yang ada di balik dinding di seberang layar laptop tempat saya mengetik saat ini. Di balik dinding saja saya tak bisa lihat, apa lagi apa yang akan terjadi di masa datang.

Saya serahkan pada garis tangan. Semoga Allah SWT selalu menguatkan dan membimbing ke jalan yang lurus.

“Zaman Now”-nya Go-Jek Kayak Gini…

Marketing “Zaman Now”? Go-Jek kembali ke konvensional. 
Di simpul kemacetan dekat jalan layang non – tol Tebet, Go-Jek memasang papan iklan baru.

Bukan foto model atau grafis mentereng, melainkan teks kecil – kecil, isinya cerita dua paragraf.

“Hanya yang kena macet yang bisa baca tuntas”, kata Pietr Jakubowski, Chief Marketing Officer Go-Jek. 

Di akhir teks ada pesan moral dan pesan marketing yang sangat kuat:
“Dari tadi belum nyampe perempatan Kuningan? Go-Jek-in aja! 

*Foto: Pietr Jakubowski di Linkedin

Beri Workshop Kepada Tetua, Semoga Berfaedah

Pertama kali, Saya memberi paparan untuk peserta yang usianya jauh lebih tua. Sempat ada kekhawatiran saya hanya dianggap anak ingusan, sehingga peserta memilih main handphone, kembali ke kamar, ngopi – ngopi di lobi, dan seterusnya. Tapi, syukurlah, sampai acara berakhir, semua peserta antusias mendengarkan dan mengikuti aktivitas yang sudah saya rancang.

Continue reading “Beri Workshop Kepada Tetua, Semoga Berfaedah”

Berbagi Cerita Tentang News Vlog di Univ. Bakrie

Lewat direct message Instagram, Annisa menyampaikan akan ada Journalism Day yang diselenggarakan Media Club di kampusnya, Universitas Bakrie. Annisa bertanya apakah saya bisa menjadi pemateri untuk membahas news vlog.

Sebulan kemudian, hadirlah saya di tengah – tengah pelajar dan mahasiswa di salah satu ruang pertemuan di kampus Universitas Bakrie di Kuningan, Jakarta Selatan.

Jumay (29/09) saya berbagi mengenai produksi news vlog di tempat saya bekerja di Departemen Digital KompasTV.

Saya menceritakan kriteria isu apa saja yang bisa jadi vlog dan bagaimana karakter news vlog yang diusung tempat saya  bekerja. Selain menceritakan teknis dan ide – ide news vlog, saya juga menyetel video contoh vlog dan video on demand yang saya produksi selama 5 bulan saya berkreasi di Departemen Digital.

Selain itu, saya juga bercerita mengenai peluang apa saja yang disajikan internet dan media sosial bagi penggunanya yang anak muda.

Saya terinspirasi dari pelatihan membuat konten Youtube di Social Media Week. Di kelas kecil itu, ternyata hadir seorang Youtuber. Dia masih sangat muda, hobi hiphop dan rajin mengunggah ceritanya sehari – hari ke dalam vlog. Dia dapat “gaji bulanan” dari ngevlog.

Pada momen sharing di Universitas Bakrie, saya juga meng-encourage peserta untuk menjadikan bakat narsis dan kreativitas dalam produksi konten untuk jadi pekerjaan. Teramat banyak peluang di “jaman now” bagi mereka yang rajin dan kreatif mengunggah konten, utamanya di YouTube dan Instagram.

Saya juga bercerita mengenai peluang yang terbuka untun siapa saja yang menjadikan media sosial sebagai showcase untuk prestasi ataupun kegiatan yang digelutinya. Saya memberi contoh Annisa. 

Saya menyatakan di depan peserta, kalau saya tidak kenal Annisa. Baru di hari itu, 30 menit sebelum sesi dimulai, saya bertanya kepada Annisa. “Eh, sori Nis, kamu kenal aku dari siapa ya? Aku selalu lupa mau nanya ini kemarin – kemarin”. Lalu Nisa menjawab, dari Instagram. 

Finally graduated from Health & Nutrition Journalist Academy.

Finally graduated from Health & Nutrition Journalist Academy.
What a memory, Started in February and finished in July.. We had a series of fruitful workshops, did a trip to Aqua plant in Klaten, several project presentations. 

We also did 2 special coverages related to nutrition & environmental health, and finally, me & Connie had chosen as one of The Best Graduates among 19 journalists from various publishers in Indonesia. 

The Ministry of Health Mrs Nila Moeloek also attended our graduation and had the first chance to read the compilation of our work that has been published into a book. 

The graduation took place at The Akmani hotel Jakarta on Friday, 4 August 2017. 

The appreciation for participants of HNJA 2017

Thanks to AJI & Danone Indonesia for organising HNJA 2017

The Ministry of Health Mrs Nila Moeloek after her keynote speech at the HNJA graduation ceremony