Saya beberapa kali menjalani tugas liputan yang bersentuhan dengan Ibu Mega dan PDIP. Terutama pada tahun 2014 saat perhelatan pemilu legislatif dan pemilu presiden.

Suatu pagi di akhir pekan, PDIP mengadakan rapat konsolidasi pilpres. Kantor DPP di Pasar Minggu, Jaksel, jadi tempat berjalannya rapat. Jelang siang, wartawan tak kunjung mendapatkan statement resmi. Akhirnya, usai makan siang, rapat selesai. Kami mendapat wawancara dari Wasekjen Hasto Kristianto dan Sekjen Tjahjo Kumolo.

“Ibu Mega masih di dalam”, celetuk seorang wartawan. Pertanda, kami tetap harus menunggu di DPP. “Dia gak bakalan ngomong”, celetuk wartawan lainnya. “Iya sih, beberapa acara PDIP dia udah didoorstop tapi gak bakalan mau berhenti”, sahut wartawan lain.

Benar saja, menjelang jam 3 sore, perempuan pertama dan terlama memimpin parpol di Indonesia itu tidak menjawab satupun tanya wartawan.

Di kesempatan lain, pada acara yang dihadiri Ibu Mega, jarang sekali ada wawancara. Satu – satunya jalan untuk mengutip pernyataan terkini dari beliau adalah dari pidato – pidatonya di mimbar.

Pernah, pada sebuah acara PDIP di Ecopark Ancol, Ibu Mega pidato satu jam. Tidak semua adalah arahan partai. Ada pula sisipan sindiran – sindarannya terhadap para lawan politik yang disampaikan dengan bahasa sehari – hari.

Di buku Sisi Lain Istana karya wartawan Kompas Joseph Osdar, sosok Megawati juga digambarkan tidak dekat dengan wartawan.

Belum lama saya selesai membaca dua jilid buku Sisi Lain Istana, saya ditugaskan meliput perayaan ulang tahun Ibu Mega hari Senin (23/2/2017). Ibu Mega berulangtahun yang ke – 70 dan dirayakan di Taman Ismail Marzuki.

Banyak sekali tokoh datang. Termasuk Presiden Jokowi dan Cagub DKI Ahok. Di akhir acara, Ibu Mega meluncurkan buku yang ditulis wartawan. Judulnya “Megawati Bukan Media Darling Biasa”.

 

img_0056
Catatan wartawan di “zaman” Ibu Mega. Kado ulang tahun yang ke – 70. 

 

Ibu Mega ternyata dekat dengan wartawan. Pada zamannya.

“Mereka dulu sebenarnya meliput saya. Dan awalnya mereka bilang Bu Mega sombong, angkuh, tidak bisa dicari beritanya. Tapi ndak tahu, (mereka) ngintil saya terus. Akhirnya mereka tahu sebenarnya saya kayak apa. Sampai sekarang (mereka) adik saya. Mereka bersahabat dengan saya” – Megawati Soekarnoputri.

 

 

 

Wartawan senior Kompas Joseph Osdar dan Pepih Nugraha masuk dalam daftar penulis dalam buku Megawati Bukan Media Darling Biasa.

Ada juga wartawan senior Antara Budi Setiawanto yang “ikut” Ibu Mega sejak tahun 1993. Di buku ini Budi menyumbang tulisan berjudul “Separuh masa kerja saya adalah meliput Megawati”.

Ibu Mega yang sekarang mungkin sudah menyingkir dari panggung media darling. Sehingga, wartawan kemarin sore seperti kami yang menungguinya di DPP PDIP tidak akan dilayani wawancara. Panggung Ibu Mega diberikan ke yang lain.

Saya jadi teringat ucapan seorang kawan yang bertugas di Istana Wapres, “Pak JK sekarang sudah jarang didoorstop”.

 

Advertisements

One thought on “Wartawan dan Ibu Mega

  1. Tulisannya sangat menginspirasi mba, terimakasih sudah berbagi…
    kunjung jg ke blog sikribo cemilan bukan-bukan, bukan keripik bukan kerupuk tapi gurih dan renyahnya bukan main-main. Info order, dropship, reseller silah kontak via WA 082250295001 (tras-owner sikribo)
    http://www.sikribo.id

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s