Sudah sidang ke dua belas bertepatan dengan hari Selasa 28 Februari 2017.

Ini adalah pertama kali saya terlibat dalam tim liputan sidang Ahok. Saya diplot masuk siang. Sayangnya, sidang sudah selesai sekitar pukul 14.00 WIB, saat kami masih di Jalan Layang Antasari, sekitar 5 kilometer dari Gedung Kementerian Pertanian, tempat sidang dilakukan.

Alhasil, rekan – rekan shift sebelumnya lah yang full bertugas untuk sidang Ahok.

Sehari sebelumnya, saya diinvite di Whatsapp Group yang sudah dibentuk sejak sidang pertama. Member grup berganti seiring dengan berubahnya komposisi tim liputan, khususnya juru kamera, tim audio dan koordinator live.

Kami sudah memilih reporter khusus yang embedded di sidang Ahok. Tujuannya, agar ada pemahaman yang mendalam mengenai perkembangan sidang dan membangun relasi dengan para nara sumber (JPU, Penasihat Hukum, dan bagian Humas PN Jakarta Utara).

Sejak H-1, seorang reporter embedded kami sudah wara – wiri melakukan briefing kepada kami. Hal teknis dan konten dibahas di grup tersebut.

Karena baru pertama, sayapun kembali mengulik serba – serbi sidang Ahok dan melakukan riset mengenai dua orang ahli yang akan hadir dalam sidang hari Selasa.

——

ilustrasi sidang ahok kompascom
foto feature untuk berita terkait Sidang Ahok. Sumber: kompas.com

 

Hari Selasapun datang. Saya bangun lebih pagi dibanding hari shift siang saya yang biasanya.

Grup koordinasi Sidang Ahok sudah mulai warming up dengan beberapa obrolan perihal teknis penempatan tim liputan. 1 tim meliput suasana di luar Auditorium Kementan, 1 tim melakukan transkripsi dari dekat speaker di luar ruang sidang, 1 tim live di luar sidang, dan 1 kameramen untuk mengawasi pergerakan di area pintu masuk auditorium.

Jam 9 WIB lebih sedikit, sidang dimulai. 1 orang reporter kami sudah mulai mengirimkan transkrip percakapan hakim. Lalu Penasihat hukum, yang menolak Pimpinan Front Pembela Islam yang dijadwalkan memberikan ahli.

Kata per kata diketik lewat telepon pintar, dan dikirimkan ke Whatsapp Group.

Sayapun membaca sekilas saja. Masih terlalu pagi untuk membaca indepth potongan – potongan transkrip tersebut.

Sekitar jam 11.00 WIB, saya menyalakan laptop dan mencari berita terkait sidang ke – 12 ini di media – media online. Lewat mesin pencari Google, tentu saja. Berita terbaru diposting 3 jam yang lalu. Transkrip yang dikirim teman saya belum dibuat dalam bentuk berita oleh portal online manapun.

Oke, tidak ada pilihan untuk saya, jika ingin memonitor perkembangan terbaru dari dalam ruang sidang. Sayapun baru membaca serius dan scroll ke atas untuk fokus.

Jam 11.30 WIB, saya hentikan membaca, dan bergegas ke kantor.

——

Setibanya di kantor, saya bertemu 3 orang kameramen dan 1 orang reporter lainnya. Kami adalah tim aplus. Istilah untuk tim liputan yang mengganti shift sebelumnya.

1 orang reporter ini sudah pernah beberapa kali ditugaskan meliput Sidang Ahok.

“Itu transkrip pakai handphone atau laptop?. Benar – benar dari sidang mulai sampai selesai?”, begitu tanyaku membuka perbincangan.

“Iya, diketik pakai handphone. Di sidang sebelum – sebelumnya juga gitu kok”, jelasnya.

——

Sidang Ahok sukses membuat para jurnalis kerja banget. Sidang ini tidak boleh disiarkan live. Jurnalis boleh meliput ke dalam ruang sidang, namun tidak boleh membawa ponsel. Ruang sidangpun kapasitasnya terbatas. Jurnalis dibatasi jumlahnya, dan dibatasi keluar masuk ruangan.

Akhirnya, jurnalis lebih memilih duduk melantai di luar ruang sidang, dan memonitor jalannya sidang dari speaker yag telah disiapkan.

Untuk jurnalis televisi, juru kamera tetap mengambil cuplikan jalannya sidang dan membawa memory card untuk difeeding ke SNG saat sidang rehat, atau, meminta bantuan helper di depan pintu ruang sidang untuk “menerbangkan” memori kamera.

Kerja lebih yang dipraktekkan para jurnalis televisi semuanya bermula dari ketetapan majelis hakim yang melarang media elektronik melakukan siaran langsung selama sidang berjalan.

Pemeriksaan saksi – saksi tidak boleh live karena dikhawatirkan para saksi terpengaruh oleh pernyataan saksi lainnya.

Kasus ini juga dinilai sangat sensitif. Penasihat hukum terdakwa pernah mengatakan, karena tidak disiarkan live, setidaknya kekhawatiran untuk faktor keamanan para saksi sudah tersisihkan.

——

Di sidang – sidang awal, yang saya ingat, publik sangat antusias dengan perkembangan demi perkembangan di sidang Ahok.

Sejak sidang pertama hingga sidang ke – 12 kemarinpun, massa yang mendukung maupun yang menolak Ahok selalu hadir untuk menyuarakan aspirasi mereka. Baik saat ruang sidang masih menempati gedung eks PN Jakarta maupun saat ruang sidang sudah dipindah ke Auditorium Kementerian Pertanian di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan.

Tapi jumlah massa dan jumlah obrolan terkait Sidang Ahok semakin lama semakin berkurang. Bahkan, pernah editorial media televisi benar – benar 360 derajat saat menayangkan tragedi pembunuhan Pulomas dan memotret banjir yang kembali terjadi di Jakarta. Kedua topik berita ini booming di hari selasa – harinya sidang Ahok.

Detail transkrip, jumlah kru liputan, peralatan standard untuk news gathering, dan unit Satellite News Gathering untuk live streaming – adalah gambaran bahwa media, khususnya televisi – mengalokasikan energi lebih untuk mengikuti sidang Ahok.

Ironisnya, lansekap media sudah berubah. Media bukan lagi gatekeeper utama, bukan lagi jarum suntik yang sifatnya mensuplai berita satu arah. Audiens (pembaca maupun penonton) berhak mengabaikan berita ketika mereka jenuh dan riuh terhadap polemik – polemik baru.

Yang juga mengkhawatirkan, polemik – polemik baru yang menjadi pembicaraan hangat, tidak semuanya berasal dari informasi yang diperoleh sesuai kaidah jurnalistik.

Media berjuang untuk dua hal dalam sekali waktu. Pertama, merebut audiens dari kompetitor dari sesama publishers. Kedua, merebut audiens dari peternak berita hoaks. Poin kedua ini terkait juga dengan menjaga kepercayaan publik terkait kredibilitas informasi yang dihasilkan media “asli”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s