Kesan saya dalam meliput sidang kasus besar: Ramai, Ngantuk, Headline. Sidang perkara besar biasanya ramai pengunjung dan ramai wartawan. Saat sidang berlangsung, utamanya saat pemeriksaan saksi, proses tanya jawab sangat panjang, ngantuk tak terelakkan. Headline? Ya, ada saja percakapan dalam sidang yang selalu layak jadi headline. 

Kamis, 23 Maret 2017 menjadi hari pertama sekaligus pengalaman pertama saya meliput sidang korupsi Kartu Tanda Penduduk (KTP) Elektronik. Lebih berkesan lagi, karena saya ditugaskan untuk liputan di shift subuh. Jam 5 pagi, saya dan tim sudah meninggalkan kantor KompasTV di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, menuju gedung Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, di Bungur, Jakarta Pusat.

Hanya setengah jam saja waktu tempuh untuk ke PN Jakpus , tempat persidangan tindak pidana korupsi (Tipikor) – untuk wilayah Jakarta – digelar.

Cuaca hujan gerimis, langit juga masih gelap, karena memang masih pagi sekali kami tiba.

Mobil Satellite News Gathering (SNG) dari beberapa stasiun televisi berita sudah terparkir dengan rapi di depan pagar gedung pengadilan.

Selang berapa lama setelah kami tiba, ada satu mobil liputan tv berita lainnya yang juga menurunkan penumpang. Stasiun tv berita ternyata berlomba – lomba untuk datang pagi.

Meski sidang dijadwalkan mulai jam 10.00, datang pagi penting untuk menyiasati blockingan: Posisi tripod + kamera, posisi alat perekam suara, hingga setting kabel fiber optic untuk disambungkan ke SNG.

 

WhatsApp Image 2017-03-23 at 12.44.41
Kru televisi memanjat untuk memasang clip-on di dekat speaker di dalam ruang sidang. Photo: Okky Irmanita

Selain soal teknis, pewarta juga datang lebih awal untuk mengantisipasi doorstop interview. Hari ini, saksi pertama yang di-doorstop adalah anggota DPR RI yang juga mantan penyiar berita Teguh Juwarno.

Sidang dimulai tepat waktu, jam 10.00 WIB. Saat hakim ketua membuka sidang, semua kru televisi sudah siap. Para fotografer sudah ada di baris terdepan untuk memotret terdakwa Irman dan Sugiharto sebelum mereka mengambil posisi duduk di samping penasihat hukum.

Di televisi tempat saya bekerja, seluruh kamera sudah terkoneksi dengan sistem on air sehingga visual di kamera bisa dipantau real time di ruang master control, di gedung kantor saya di Palmerah sana. Namun, karena surat edaran Mahkamah Agung, visual tadi tidak di-rebroadcast ke khalayak, tetapi disimpan sementara waktu untuk program berita terdekat.

Saya sempat teramat sangat mengantuk pada sesi pemeriksaan saksi pertama. Majelis hakim tipikor mencecar dua orang mantan wakil ketua Komisi II DPR RI: Taufiq Effendy (Demokrat) dan Teguh Juwarno (PAN).

Saya sempat mentranskripsi seluruh dialog dalam pemeriksaan ini. Sejam kemudian, saya menyerah. Saya keluar ruangan dan bergabung dengan pewarta lain yang duduk melantai di dekat sebuah speaker warna hitam. “Memantau” sidang dari luar mengurangi kadar mengantuk saya.

Jelang jam 12.00 WIB, para jurnalis televisi bersiap untuk siaran langsung. Para reporter sudah selesai berdandan. Mereka melakukan simulasi live report sekaligus untuk mengecek kesiapan audio video. Proses ini sering kami istilahkan dengan lipsync.

Seluruh stasiun televisi menyiarkan laporan langsung sidang KTP el dalam waktu berdekatan. Asumsi saya, berita ini “naik” di segmen awal program berita masing – masing televisi.

WhatsApp Image 2017-03-23 at 12.44.21
Live report membahas pemeriksaan saksi di sidang ketiga dugaan korupsi KTP elektronik. Reportasi langsung stasiun televisi dalam waktu hampir bersamaan. Photo: Okky Irmanita

Sidang diskors pada jam makan siang, mendekati pukul 13.00 WIB. Kami mencegat dua orang saksi tadi saat keluar luar sidang untuk doorstop interview (lagi). Keduanya mengeluarkan pernyataan sama dengan di dalam ruang sidang: Mereka tidak terlibat pembahasan proyek KTP el apalagi menerima suap ratusan ribu dollar sebagaimana yang tertera di dakwaan.

Sidang sedianya dilanjut pada 13.30 WIB namun molor hingga 14.00 WIB. Rupanya, saksi yang awalnya tidak mengonfirmasi hadir, jadi datang ke pemeriksaan. Dialah Miryam S Haryani (Hanura).

Saat saya membaca dakwaan perkara KTP elektronik ini, nama Miryam berkali – kali muncul. Dia dituding sebagai perantara pengusaha Andi Agustinus alias Andi Narogong dengan anggota dewan, khususnya mitra Kemendagri yang tak lain adalah Komisi II DPR RI.

Kalau membaca kesaksian Miryam dalam dakwaan, alur cerita korupsi KTP elektronik memang begitu tertata. Semua pihak kebagian, singkatnya. Namun, semua cerita itu dibantahnya di meja hijau. Sembari menangis, Miryam mencabut seluruh isi BAPnya.

Sidang yang saya prediksi akan berjalan membosankan, tiba – tiba jadi penuh drama. Miryam mengaku terpaksa bercerita (sesuai dakwaan) untuk memuaskan tiga orang penyidik KPK. Dia bahkan sampai muntah dan menangis di kamar mandi karena tidak tahan ditekan penyidik.

Jelang saya meninggalkan gedung pengadilan karena tim liputan pengganti sudah datang, suasana sidang sempat berubah menjadi kocak.

Hakim anggota, tanpa ragu men-judge pengelakan Miryam bahwa BAP-nya tidak benar adalah tidak logis. Saking “gregetannya”, pak hakim melontarkan pertanyaan “Kok bisa, ibu jadi anggota dewan, ya?”.


Cerita sidang perdana belum habis saat saya meninggalkan PN Jakpus.
Setiba di kantor, ada “PR” dari produser berita Kompas Petang.

Saya diminta bantu untuk memotong dan memilih “SOT – sound on tape” alias mencuplik dialog hakim dan Miryam saat dirinya menangis di persidangan.

Rekaman yang sudah ada di sistem kami durasinya hampir satu jam. Saya harus mencuplik maksimal 2 menit dari dialog itu.

Selesai dengan memotong SOT, saya ditanya. “Hakim anggota yang ini namanya siapa…”. Astaga, ini luput dari perhatian kami, tim di lapangan. Sidangpun masih berlangsung. Tidak mungkin kami bertanya ke panitera, siapa nama hakim itu.

Setelah googling, kami mendapat daftar nama hakim yang bertugas dalam sidang KTP elektronik. Tantangan selanjutnya adalah mencocokan nama hakim anggota dengan visual masing – masing hakim.

Malam harinya, saya baru bisa menemukan nama hakim anggota dan menyesuaikan dengan dialog yang dicuplik. Pengalaman berharga dan cukup memantik tawa buat saya.

Saya masih penasaran sama sidang – sidang berikutnya.
Jikalau kebagian jadwal ke sidang ini, saya akan menjalani dengan senang hati 😀 .


Selengkapnya, berita – berita soal sidang ketiga KTP elektronik:

Hakim Kasus E – KTP: Kok bisa Ibu Jadi Anggota Dewan Ya 

Menangis, Mantan Anggota Komisi II Bantah Semua Isi BAP 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s