“Kamu ke Bekasi, ada demo protes pendirian rumah ibadah. Sudah memanas, antisipasi ricuh”, begitu kira – kira instruksi koordinator liputan lewat sambungan telepon. Seketika saya merasa “apes”. Bekasi, demo, rusuh….

Tapi, bukan jurnalis namanya kalau tidak mengampiri tantangan. Jelang jam 15.00 WIB, hari Jumat 24 Maret 2016, kami berangkat ke Kaliabang, Bekasi Utara. Dari Palmerah, kami masuk tol dalam kota, lalu tol Bekasi – Cikampek.

Masih permulaan sore namun jalanan padat luar biasa. Kami pun memutuskan mengambil exit toll Kalimalang dan menempuh jalur non – tol selama sekitar 1,5 jam.

Saat di perjalanan, saya memantau Twitter untuk mengetahui aksi unjuk rasa. Latar belakang aksi sudah cukup saya ketahui. Pasalnya, demo rumah ibadah ini bukan kali pertama. Untuk dapat izin pendirian rumah ibadah, butuh 20 tahun. Setelah izin terbit, bertubi – tubi ada aksi protes. Di tahun 2015, pengerjaan proyek kembali terhenti karena ada kelompok yang meminta izin pembangunan di-review kembali.

Sudah ramai ada video dan foto di Twitter bahwa kericuhan sudah pecah. Polisi tembakkan gas air mata, massa melempar ke arah polisi, dan seterusnya.

Saya juga mengontak rekan kontributor yang sudah sejak awal memantau aksi. Lewat Whatsapp dia menginformasikan geotagging tempat “aman” untuk memarkir mobil. Selain itu dia menambahkan “Bentrok sama polisi, tolong parkir agak jauh dan jalan kaki ke titik ini”.

Semakin mumet kepala ini. Mana macet tidak karuan, sudah ricuh pula di lokasi yang kami tuju.

Telepon dari koordinator live berdering. Menanyakan lokasi dan menginformasikan ada proyeksi siaran langsung dari titik kejadian. Sayangnya, kami masih 1 jam lagi sampai di titik itu.

Bertubi – tubi telepon masuk untuk memonitor posisi kami. Sampai akhirnya mobil kami terhenti 1,6 kilometer dari titik aksi. Setelah bertahan beberapa menit, kami akhirnya jalan kaki dengan menggotong tripod, mic, kamera, serta Streambox (alat portable untuk streaming / siaran langsung).

Saya dan juru kamera berjalan kaki di jalanan berdebu yang sudah sesak oleh mobil dan motor. Kamipun beberapa kali “berebut jalan” dengan pengendara motor yang tidak sabaran. Juga, kami jadi saksi adu mulut antara dua ibu – ibu pemotor. Mereka juga terlibat perebutan jalan di suasana yang sudah crowded. Ah, ibu, apa tidak malu dilihat anak – anak yang kau bonceng, begitu batinku.

Kami tiba di titik aksi unjuk rasa sepuluh menit jelang jam 18.00 WIB. Massa sudah bubar dengan tertib. Di halaman lokasi pembangunan rumah ibadah, polisi lakukan apel. “Sudah bubar, Mbak. Ini apel pembubaran pasukan”, ujar ibu polwan yang baik hati.

Pukul 18.20 WIB, kami lakukan reportase langsung dari depan rumah ibadah. Saya menyampaikan kalau aksi demo sudah bubar, polisi sudah bubar, dan menyinggung apa tuntutan pengunjuk rasa. Sebelum reportase, saya menelpon kontributor sekali lagi untuk memastikan informasi yang saya baca di internet sudah sesuai dengan peliputan dia selama aksi berlangsung.

Ohya, selama berada di lokasi aksi, saya dan juru kamera berkali – kali bersin. “Masih ada uap gas air mata”, kata juru kamera saya.

Ada beberapa polisi yang terluka, begitupun pengunjuk rasa. Meski mencekam, hanya hitungan detik setelah polisi tinggalkan lokasi, kehidupan normalpun berjalan kembali.

Di belakang saya, seorang bapak paruh baya bergegas menggelar tenda daganganya. “Dagang masakan chinese food, Mbak. Harusnya sudah gelar dari jam 4 sore tadi”, katanya sambil tersenyum.

Di seberang lokasi pembangunan rumah ibadah, memang ramai pedagang kaki lima. Selain itu, juga berdiri sebuah supermarket cukup besar yang terkenal menjual buah paling segar dibanding kompetitornya.

Saya juga sempat menunaikan shalat maghrib di gedung SMK dekat lokasi unjuk rasa. Setelah itu, saya juga membeli minuman di dalam supermarket tadi. Semua aktivitas berjalan normal.

Sebelum berberes kembali ke Jakarta, saya menanyai seorang bapak yang memerhatikan saya selama melakukan reportase langsung.

“Pak, ini katanya udah sering demo kayak gini”, kulontar basa – basi membuka percakapan.

“Wah, saya gak tahu, Mbak. Saya juga baru tahu kalau ada demo, makanya saya ke sini sama anak saya”, jawabnya.

“Bapak tinggal di dekat sini?”, tanyaku penasaran. Kok si bapak kurang terpapar informasi ya soal resistensi terhadap pembangunan rumah ibadah…

“Tidak, Mbak. Saya tinggal beberapa kilometer dari sini”, ujarnya.


Catatan:
foto ilustrasi unjuk rasa rumah ibadah bekasi bersumber dari portal Go Bekasi , diakses tanggal 25 Maret 2017.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s