“Zaman Now”-nya Go-Jek Kayak Gini…

Marketing “Zaman Now”? Go-Jek kembali ke konvensional. 
Di simpul kemacetan dekat jalan layang non – tol Tebet, Go-Jek memasang papan iklan baru.

Bukan foto model atau grafis mentereng, melainkan teks kecil – kecil, isinya cerita dua paragraf.

“Hanya yang kena macet yang bisa baca tuntas”, kata Pietr Jakubowski, Chief Marketing Officer Go-Jek. 

Di akhir teks ada pesan moral dan pesan marketing yang sangat kuat:
“Dari tadi belum nyampe perempatan Kuningan? Go-Jek-in aja! 

*Foto: Pietr Jakubowski di Linkedin

Advertisements

Beri Workshop Kepada Tetua, Semoga Berfaedah

Pertama kali, Saya memberi paparan untuk peserta yang usianya jauh lebih tua. Sempat ada kekhawatiran saya hanya dianggap anak ingusan, sehingga peserta memilih main handphone, kembali ke kamar, ngopi – ngopi di lobi, dan seterusnya. Tapi, syukurlah, sampai acara berakhir, semua peserta antusias mendengarkan dan mengikuti aktivitas yang sudah saya rancang.

Continue reading “Beri Workshop Kepada Tetua, Semoga Berfaedah”

Berbagi Cerita Tentang News Vlog di Univ. Bakrie

Lewat direct message Instagram, Annisa menyampaikan akan ada Journalism Day yang diselenggarakan Media Club di kampusnya, Universitas Bakrie. Annisa bertanya apakah saya bisa menjadi pemateri untuk membahas news vlog.

Sebulan kemudian, hadirlah saya di tengah – tengah pelajar dan mahasiswa di salah satu ruang pertemuan di kampus Universitas Bakrie di Kuningan, Jakarta Selatan.

Jumay (29/09) saya berbagi mengenai produksi news vlog di tempat saya bekerja di Departemen Digital KompasTV.

Saya menceritakan kriteria isu apa saja yang bisa jadi vlog dan bagaimana karakter news vlog yang diusung tempat saya  bekerja. Selain menceritakan teknis dan ide – ide news vlog, saya juga menyetel video contoh vlog dan video on demand yang saya produksi selama 5 bulan saya berkreasi di Departemen Digital.

Selain itu, saya juga bercerita mengenai peluang apa saja yang disajikan internet dan media sosial bagi penggunanya yang anak muda.

Saya terinspirasi dari pelatihan membuat konten Youtube di Social Media Week. Di kelas kecil itu, ternyata hadir seorang Youtuber. Dia masih sangat muda, hobi hiphop dan rajin mengunggah ceritanya sehari – hari ke dalam vlog. Dia dapat “gaji bulanan” dari ngevlog.

Pada momen sharing di Universitas Bakrie, saya juga meng-encourage peserta untuk menjadikan bakat narsis dan kreativitas dalam produksi konten untuk jadi pekerjaan. Teramat banyak peluang di “jaman now” bagi mereka yang rajin dan kreatif mengunggah konten, utamanya di YouTube dan Instagram.

Saya juga bercerita mengenai peluang yang terbuka untun siapa saja yang menjadikan media sosial sebagai showcase untuk prestasi ataupun kegiatan yang digelutinya. Saya memberi contoh Annisa. 

Saya menyatakan di depan peserta, kalau saya tidak kenal Annisa. Baru di hari itu, 30 menit sebelum sesi dimulai, saya bertanya kepada Annisa. “Eh, sori Nis, kamu kenal aku dari siapa ya? Aku selalu lupa mau nanya ini kemarin – kemarin”. Lalu Nisa menjawab, dari Instagram.