Pertama kali, Saya memberi paparan untuk peserta yang usianya jauh lebih tua. Sempat ada kekhawatiran saya hanya dianggap anak ingusan, sehingga peserta memilih main handphone, kembali ke kamar, ngopi – ngopi di lobi, dan seterusnya. Tapi, syukurlah, sampai acara berakhir, semua peserta antusias mendengarkan dan mengikuti aktivitas yang sudah saya rancang.


Sempat beberapa kali tertunda, akhirnya pelatihan untuk Sekretariat Dewan bagian Humas di DPRD Kota Bogor terlaksana jua. Saya hampir terlambat di tempat acara, sebuah hotel di kawasan Cideng, Jakarta Pusat. Acara berlangsung Kamis (12/10).

Pelatihan ini pesertanya hampir 30 orang. Hanya ada dua anak muda yang saya lihat di kelas. Keduanya perempuan. Sekitar 20 persen lainnya saya perkirakan berusia 30-an. Sementara, sebagian besar kelihatan sudah “senior”.

DSC08784
Mengulas karya peserta yang menulis berita klarifikasi.

Sayapun menyapa mereka dengan Bapak Ibu. Mas Nirfan, sang moderator dari Piranti Institute memberi gestur tak menyangka saat saya meninggalkan tempat duduk dan memilih mondar – mandir sembari menjelaskan materi.

Saya diminta memberi materi teknik menulis berita. Tapi akhirnya saya memutuskan hanya menjelaskan dua hal soal berita.

Dua hal lainnya adalah soal menulis klarifikasi dan menulis promosi kegiatan. Dua hal ini, menurut saya, tidak kalah pentingnya dengan kemampuan menulis rilis kunjungan kerja ataupun berita kegiatan lainnya.

Berlatih, Bukan Hanya Mendengar Ceramah

Hampir 45 menit materi berjalan, saya meminta peserta berlatih menulis klarifikasi. Tulisan ditorehkan di selembar kertas, difoto, dan dikirim ke nomor Whatsapp saya. Saya lalu membuka aplikasi Whatsapp dari laptop yang tersambung ke LCD proyektor. Job well done! Peserta yang dibagi ke empat kelompok saya anggap lulus tes pertama ini.

DSC08780
Peserta membuat draft rilis pers. Hasil jadinya ditulis tangan, difoto, dan dikirim ke Whatsapp saya untuk ditampilkan di laptop yang terkoneksi LCD proyektor.

Setelah latihan, saya melanjutkan paparan. Barulah ke latihan akhir. Setiap kelompok saya buatkan soal yang berbeda. Ada yang tugasnya membuat berita kunjungan kerja, lalu yang lain membuat klarifikasi, promosi acara, dan membuat rilis mengenai inovasi di DPRD Bogor.

Saya memberi waktu 10 menit. Bapak – bapak tampak kelelahan mengikuti latihan ini dan memilih menyeruput kopi di belakang. Saya manfaatkan waktu ini dengan berinteraksi dengan mereka.

Tanya Para Peserta

Satu dua orang curhat soal bagaimana menghadapi wartawan. Ya, soal yang satu ini sudah ditanyakan juga oleh seorang Bapak, saat sesi diskusi, kurang lebih 30 menit saat sesi berjalan.

Mereka yang bekerja di Humas DPRD ini kebingungan menghadapi gempuran pertanyaan wartawan, khususnya untuk isu kontroversial. Biasanya soal anggaran.

Belum lagi, ada saja oknum anggota DPRD yang suka mendahului kebijakan instansi. Si oknum bicara ke pers sebelum ada rilis resmi atau kesepakatan antaranggota untuk meyikapi suatu isu. Wajar, menurutku. Mengingat di Senayan, anggota dewan saja ada yang “independen” dan sudah lazim memberi pernyataan non-kolektif. Anggota dewan memberi pernyataan yang keluar dari instruksi partai juga bukan barang langka di Senayan.

Jadi, saat momen pelatihan tersebut, saya memberi masukan, agar Humas lebih aktif berkoordinasi dengan para pejabat “di atas”, dalam hal ini adalah Sekretaris Dewan (Sekwan). Saya juga memberi pesan, agar Bapak Ibu di Humas rajin memberikan rilis agar berita tidak salah kutip. Jika dibutuhkan, jumpa pers adalah sarana terbaik untuk memberi informasi, klarifikasi, ataupun promosi.

Ada catatan juga yang saya sampaikan. Sederhana, namun, menurut pengalaman saya sebagai pewarta, sering terlewat oleh mereka yang bekerja jadi corong instansi. Pesan saya, saat belum ada arahan: lebih baik diam.

Sering terjadi polemik berkepanjangan karena perwakilan otoritas terpancing pertanyaan wartawan. Padahal, jika yang dilakukannya hanya diam atau “no comment”, sebuah polemik kemungkinan berhenti di situ.

Saya memberi contoh Setya Novanto. Seluruh negeri menanti pernyataan Setnov usai memenangi praperadilan dan soal tanda tanya dirinya dirawat. Setnov memilih diam. Dengan dia diam, tidak ada yang bisa dikutip. Cepat atau lambat, faktanya, berita soal Setnov terhenti — untuk sementara waktu, sampai ada isu lain.

Terima Kasih Telah Antusias

Ketakutan saya akan sesi ini akan membosankan sirna sudah. Sampai saya memulai sesi diskusi (saya tidak ingin pakai “tanya jawab”), peserta masih ON.

Alhamdulillah, dari acara mulai jam 19.40 hingga 22.00 wib, semua berlangsung lancar. Thanks to inisiatif untuk membuat soal pelatihan yang saya dapatkan dua hari sebelum acara.

Entah apa yang menghilhami. Yang pasti, penyelenggara tidak expect that much soal apakah saya akan kasih soal latihan dan bagaimana teknis penyampaian materi.

Saya juga sempat bercanda dengan beberapa peserta. Ada peserta yang saya panggil dengan sebutan Mas Adam, karena beliau mirip suami Inul Daratitsta. Ada pula peserta yang paling muda yang saya kagumi hasil karyanya. Peserta paling muda ini saya “promosikan”.

DSC08788

Lewat mikrofon saya bilang, “Pak, Bu, tolong Mbak ini dipindah ke divisi yang bikin promosi. Ini kalimat promosinya sangat kekinian. Sia – sia kalau potensi Mbak-nya diabaikan”. Audiens pun bersorak. Ada suara kecil yang mengiyakan kepindahan Mbak itu.

Ada beberapa evaluasi yang disampaikan oleh Mas fotografer yang menemani saya malam itu. Dan ya, overall saya merasa sesi ini the best so far untuk kategori workshop yang dihadiri para tetua. Semoga berfaedah 🙂

 

DSC08793
Foto bersama seluruh peserta yang bersemangat, meski sudah jam 22.00wib.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s