Resign – Mengakhiri Karir Sebagai Wartawan

Wartawan pernah jadi cita – cita saya. Lalu berganti dengan sering, seiring terbukanya pergaulan saya saat kuliah S1 di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Oops, apalagi saya sudah jadi mahasiswa hukum saat itu.

Pilihan pekerjaan anak hukum umumnya adalah praktisi (hakim, jaksa, pengacara, dsb) atau jadi dosen, atau kerja di belakang meja sebagai HR, konsultan, dan sebagainya.

Tapi ya, namanya garis tangan.

Belum selesai kuliah saya di Unhas, saya mencicipi pengalaman jadi wartawan televisi di CelebesTV. Saat itu adalah televisi lokal yang baru hadir di Sulawesi Selatan (circa 2011).

Lalu saya diwisuda dengan semangat ingin jadi wartawan di Jakarta. Harus di Jakarta, saat itu dengan tengilnya saya merasa sudah menaklukkan “lapangan” di Makassar. Saya ingin kompetisi yang lebih luas.

Akhirnya, 17 Desember 2012 saya menempelkan kartu ID ke mesin absen di KompasTV di kantornya yang masih gres di Palmerah, Jakarta Barat.

Tahun – tahun berlalu dengan asyiknya. Saya terlarut dengan profesi ini, jika tak ingin dibilang cinta.

Screen Shot 2018-06-25 at 17.46.00
Setiap karyawan KompasTV harus punya ini. Exit employee interview disertai dengan pengembalian tanda pengenal.

Profesi ini membawa saya menjangkau banyak tempat, termasuk tempat – tempat pengambilan keputusan, seperti Istana Kepresidenan, pengadilan, dan pusat krisis saat terjadi berbagai bencana alam.

Profesi ini pula yang tidak bisa saya elakkan telah membawa saya meraih beasiswa LPDP untuk lanjut kuliah di luar negeri.

Di satu tahun terakhir saya, saya bahkan mencicipi dunia baru, yakni redaksi digital. Saya berpraktik, mendapat pelatihan, dan membuka jaringan baru. Di posisi ini, saya menjadi trainers Google News Lab Indonesia yang membawa misi melatih jurnalis menghindari berita hoaks.

Tapi, lagi – lagi sudah jadi garis tangan.

Arah angin membawa saya meninggalkan dunia yang sudah jadi zona nyaman saya. Orang – orang terdekat pun menantang saya untuk mencari tantangan. Agar terasah potensi dan terpakai ilmu saya, begitu kata mereka.

Tapi, keputusan kuambil bukan karena kata siapa – siapa. Pertimbangan eksternal dan internal dan kesadaran pribadi lah yang membuat saya keluar trayek.

26 Juni 2018, saya tiba di pagi hari yang sejuk dan gerimis di sebuah gedung mentereng di Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Di sinilah, saya akan memulai pergaulan baru, bergelut dengan isu baru, dan memulai status sebagai karyawan baru.

Saya tak bisa lihat apa yang ada di balik dinding di seberang layar laptop tempat saya mengetik saat ini. Di balik dinding saja saya tak bisa lihat, apa lagi apa yang akan terjadi di masa datang.

Saya serahkan pada garis tangan. Semoga Allah SWT selalu menguatkan dan membimbing ke jalan yang lurus.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s