Sudah Tak Jadi Wartawan, Notif Whatsapp pun Sepi ~

Sebelum benar – benar resign, saya menjalani kewajiban one month notice. Dalam masa one month notice, saya harus mengumpulkan tanda tangan beberapa manager dan penanggung jawab di perusahaan.

Dua minggu sebelum tanggal resign, saya melakukan clearance di warehouse. Tujuannya, agar saya benar – benar bersih (clear) dari peminjaman alat – alat milik kantor.

Berturut – turut clearance saya lakukan ke bagian penanggung jawab email kantor, ke bagian Finance, HR, dan General Affairs – hingga akhirnya clearance terakhir, email saya dimatikan, lalu kartu akses pintu dan tanda pengenal saya dikembalikan.

Ada kira – kira 10 orang yang harus saya temui untuk dimintai tanda tangan, pertanda aspek – aspek yang saya uraikan tadi sudah clear.

Lalu, pada saat hari terakhir tiba, 11 Juni 2018, saya mulai merasakan transisi. Saya pamit dari grup – grup Whatsapp yang berhubungan dengan koordinasi terkait pekerjaan.

Di Departemen Digital saja, saya tergabung ke setidaknya lima grup Whatsapp.

Belum lagi, di Departemen News Gathering, saya juga tergabung ke grup Whatsapp yang traffic-nya sangat tinggi. Di grup itu para warrior di newsroom berkumpul. Ada reporter, kameramen, koordinator liputan, koordinator live hingga koordinator peliputan daerah.

Kenapa grup itu selalu ramai?

Karena, selain koordinasi, undangan peliputan, rilis pers, hingga rundown berita dituangkan di grup tersebut.

Belum lagi, ada beberapa isu peliputan yang ditimpali kritis oleh para warrior di lapangan.

Promosi produk, info diskon, lelucuan di dunia maya, pun jadi konten yang membuat notifikasi di grup Gathering pantang ada rentang walau sedetik.

Saya ingat, waktu kejadian bom Thamrin tahun 2016, ada 400 pesan tak terbaca. Kala itu saya bangun subuh di Glasgow, kota yang zona waktunya 7 jam di belakang Jakarta.

Nah, pada 12 Juni 2018, saya bangun di pagi hari dengan ritual yang sama. Mematikan alarm dan mengecek Whatsapp dengan melakukan swipe up di layar ponsel pintar berlogo apel milik saya.

Sepi.

pexels-photo-46924.jpegIlustrasi Whatsapp – Photo by Anton on Pexels.com

Saya tidak benar – benar pergi dari grup Whatsapp yang masih ada hubungannya dengan profesi jurnalis. Saya bertahan di grup Whatsapp yang memang membolehkan mantan jurnalis tetap bergabung. Dan grup inilah yang jadi berharga meski tak lagi ber-kartu pers.

Ya beginilah.. Kala itu, saya mengeluh, sulit sekali beristirahat dari pekerjaan karena beragam notifikasi itu. Bahkan saat cuti pun, jemari ini gatal untuk mengecek tang – ting tang – ting bunyi notifikasi Whatsapp.

Tapi sekarang, kok rasanya sepi dan no adrenaline rush. Hehe…

Ala bisa karena biasa. Sekarang ini saya sedang belajar menambah kecepatan merespon email.

Di pekerjaan baru, saya dituntut untuk melakukan komunikasi di email dengan hampir sama cepatnya dengan membalas suatu instruksi lewat Whatsapp.

Plus, narasi yang saya buat harus dalam bahasa Inggris dan seformal mungkin.

Hmm.. saya jadi teringat quotes dari Steve Jobs. We don’t know where it lead. We just know that there is something much bigger than any of us.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s