Jadi Eks-Jurnalis, Sudah Boleh Pamer Pilihan Politik?

Tidak satu kali ada teguran melayang ke anak reporter, presenter, dan bahkan kameramen karena mem-posting konten terkait pilihan politiknya ke media sosial.

Jadi, saya sebut saja mereka jurnalis, terbagi dalam tiga tipe. Ada yang:

1. “Ah, cuma posting ini”, 

2. “Hmm, pakai simbol ala – ala aja..”

3. Big NO untuk posting soal preferensi politik”

Saya, waktu itu sempat jadi tipe yang pertama. Namun, karena redaksi mengecam simbol politik apapun meluncur ke medsos pribadi kami, akhirnya saya berusaha keras untuk turun level ke nomor 2 bahkan 3.

Faktanya, beberapa (ya, bukan satu orang) jurnalis di Indonesia kehilangan pekerjaan karena menampilkan pilihan politiknya di medsos.

Dan, pilihan politik tak hanya soal kekaguman terhadap kandidat nomor 1, 2 atau 3 – tetapi juga soal apakah seorang jurnalis pro/kontra terhadap suatu kebijakan, suatu ormas, atau suatu campaign. 

Kekakuan ini masih terbawa meski predikat jurnalis sudah tercabut dari saya.

Konkretnya, di hari ini, saat Pilkada berlangsung di 13 provinsi dan banyak kabupaten / kota.

Sampai hitung cepat selesai, saya tidak berani gamblang menorehkan saya dukung siapa. Oh ya, saya ber-KTP Jakarta. 

Tapi, saya punya preferensi politik di tempat saya besar, yakni di Makassar. Saya juga menaruh perhatian pada Pilkada Jawa Barat, change maker dalam tiap Pemilu Presiden. (Jawa Barat punya jumlah pemilih terbesar di Indonesia).

Lantas, karena sudah tak lagi jadi jurnalis, apakah saya sudah boleh pamer pilihan politik? Mestinya boleh…

Sampai detik ini, saya kok masih ingin mempertahankan tradisi di tempat saya bekerja dulu. Saya tetap ingin preferensi politik cukup diimani sendiri saja, tanpa diumbar ke khalayak maya.


Keuntungannya, saya lebih bisa open minded pada pilihan yang berseberangan. Dan, yang menurut saya, yang juga penting dengan tindakan status quo di medsos adalah menghilangkan stres.

Setidaknya, saya tak perlu insecure kalau jagoan saya dimaki – maki kawan dekat saya. Atau bahkan, kalau dia kalah, saya juga nothing to lose.

Untuk soal dukungan ke kampanye atau gerakan, saya juga tak perlu patah hati kalau di kemudian hari, gerakan itu ternyata hanya jadi kendaraan politik tokoh oportunis. 

Nah, pada saat saya menulis ini, saya sempat mampir ke laman Instagram saya.

Uniknya, di Home saya, ada kawan yang aktif jadi jurnalis dan mengunggah poster ajakan dukungan salah satu kandidat.

Untung kandidat itu menang berdasarkan quick count. Hehe.
___________

Catatan:

Featured photo credit: bangkapos.com

Foto printscreen: kompas.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s