Menaklukkan Ketakutan Kerja “dari Rumah”

Biasanya Mama akan diam saja jika saya cerita berbagai pengalaman mendebarkan sepulang saya liputan ke luar kota.

Bukan mendebarkan yang gimana – gimana sih.

Yang jelas, anaknya ini pernah disopiri mobil kantor yang dalam waktu kurang dari tiga jam bisa sampai di Indramayu.

Pesawat yang ditumpangi anaknya ini juga pernah nyaris terhempas angin saat beberapa kaki lagi mendarat di Tanjung Pinang.

Jangan tanya soal makan sembarangan, kurang tidur, kurang uang, dan jadwal pulang yang tak pasti. Semua hal yang tidak diinginkan seorang Ibu kepada anak perempuannya. 


Sama dengan ibu lain yang “satu zaman” Mama membayangkan anaknya ke kantor dengan baju Korpri. Jadi PNS saja, masa depan jelas, gak sibuk..

Kalau bisa kerja dari rumah deh.. 

Lama – lama saya berpikir, dan merasa (karena sudah jadi istri), kerja dari rumah should be my another dream job.

Ini Juni 2018, dan harapan itu jadi nyata. 

Di pekan pertama saya di kantor baru, saya boleh dibilang hanya, in total,  48 jam “masuk kantor”. Selebihnya, saya bekerja remote.

“Ah, Ky, jangan kerja dari rumah, ke-distract lu entar…”

Benar juga.. Rumah adalah zona nyaman. Mau makan bisa, bikin kopi gampang, toilet stand by, ngantuk tinggal tidur, setrikaan tidak numpuk, dan seterusnya.

FAKTANYA.. 

none of the above…!

Tapi saya harus akui, nonton 3 episode Game of Throne adalah pengecualian. Di malam hari sebelum tidur, saya tak kuasa menahan hasrat untuk menonton.. 

JADI, di pekan pertama ini, saya sibuk mengumpulkan kepingan puzzle. Saya masuk dan membaca banyak sekali file di laptop kantor yang baru diserahkan ke saya di hari keempat bekerja (terima kasih pemerintah memberi libur karena Pilkada).

Kesibukan ini juga dipersembahkan oleh event kantor terdekat yang akan berlangsung kurang dari sepekan lagi.

Jadilah saya kepoin laptop, menyiapkan event dan menelpon sana – sini vendor yang akan terlibat. 

Saya juga sudah bertandang ke dua kantor lain untuk rapat dengan council member di tempat saya bekerja.

Karena masih sibuk, sejauh ini belum terjadi kekhawatiran bahwa saya tidak akan produktif karena tidak kerja di kantor.

ATAU

saya tidak akan produktif karena tidak ada jam kerja yang jelas. 

Yang pasti, keuntungan tambahan yang saya dapat dari keleluasaan “bekerja dari rumah” ini adalah semangat untuk blogging dengan target satu hari satu artikel👏🏻. 

Kecanggungan yang saya alami karena kerja dengan flexible time inilah yang menggugah empati saya terhadap para pegiat startup di luar sana. 

Ttd Anak Bawang di dunia remote working. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s