Ortu Cuek atau Tak Tahu Tik Tok?

Pertengahan Juni 2018 saya silaturahim ke rumah nenek saya. Di sana, berkumpul adik – adik sepupu saya yang usianya 3 – 12 tahun. Ada dua orang yang sedang asyik melihat layar ponsel ibunya. 

Lalu adik sepupu yang kelas 5 SD nyeletuk, “eh, kamu sudah lihat video Tik Tok ku yang baru…?”

Lalu ada satu lagi adik sepupu yang bergabung ngerumpi soal Tik Tok.

Saat itu, yang saya tahu, Tik Tok adalah aplikasi media sosial seperti Smule. Pengguna bisa karaoke dan bergaya. Namun saat itu saya mengidentikkan Tik Tok dengan aplikasi karaoke khusus lagu dangdut

Hampir sebulan berlalu, saya sudah di Jakarta. Saat menemani adik saya mengurus SIM, adik saya tiba – tiba mengulas topik Tik Tok.

Kamu tahu Bowo gak, Kak. Sekarang lagi heboh soal itu. Bahkan di Facebook ada user yang bikin status, “rela jual ginjal ortu demi ketemu Bowo”

Sayapun menyimak penjelasan adik saya sembari melihat printscreen para penggila Bowo di medsos.

Usai obrolan, saya membuka Instagram stories dan melihat lagi tema Bowo. Salah satu teman saya di IG mengecam tindakan Bowo yang menurutnya adalah penyalahgunaan media sosial DEMI KETENARAN PRIBADI. Dia rela di-bully demi terkenal di jagat maya. 

Kembali ke adik – adik sepupu saya. Meski masih SD, mereka sudah sangat familiar dengan ponsel. Di rumah mereka ada wi-fi. 

Thanks to Telkom yang sudah menjangkau pulau terpencil seperti Wakatobi. Ya, di sana ada kabel fiber optic sehingga layanan internet 4G bisa dinikmati. 

Anak – anak di kampung saya bisa setara pengetahuannya dengan anak lain di penjuru dunia karena akses internet sudah terbuka. 

Terbukanya akses internet juga membuat mereka aware dengan apa yang sedang HITS, termasuk Tik Tok.

Sayangnya – orang tua mereka, sependek pengamatan saya yang hanya seminggu di kampung – belum mampu menjadi pembatas terhadap apa yang diakses anak mereka di medsos.

Mereka tak tahu, tak begitu tahu apa Tik Tok, untuk apa dan apa potensi bahayanya jika anak mengakses berlebihan dan melihat konten yang tidak pantas untuk anak. 

Termasuk bahwa Tik Tok sebenarnya juga punya nilai kebaikan. Misalnya, anak – anak yang tidak pede bernyanyi di depan orang beneran kini bisa ekspresif. Mungkin saja ada potensi penyanyi seperti vokalis Sabyan Gambus yang lahir karena Tik Tok. Mungkin..

Mungkin juga lahir video editor pro di usia belia karena sering utak – atik Tik Tok. 

INI OPINI SAYA:

Ketidaktahuan berujung pada sikap cuek. Ah, Tik Tok sama sajalah dengan video lain di YouTube. Ya video tutorial membuat slime, video lagu babyshark, dan seterusnya – begitu benak para Mama..

Barulah mungkin pada saat Menkominfo Rudiantara hari ini memutuskan Tik Tok diblokir, para ortu mulai ada tanya dan mengkritisi bahaya Tik Tok untuk anak.

Kalau yang saya baca dari Kompas.com, Kominfo sudah menerima lebih dari 2.000 laporan sekaligus petisi untuk memblokir aplikasi itu.

Prediksi saya, satu diblokir, akan hadir Tik Tok lainnya. 

Kalau sudah begini, kita diingatkan akan tugas signifikan dari Revolusi Mental. Eh, masih ada kah?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s