Beasiswa jurnalistik itu membuka mata saya – Cerita HNJA (1)

Masuk di tahun keempat saya jadi jurnalis, saya sempat mencari – cari lagi kegiatan ekstra. Apalagi, saya masih semangat – semangatnya ingin sibuk setelah selesai sekolah S2.

“Dulu saja, saya sekolah sambil ikut PPI Glasgow, PPI UK, pengajian, bahkan ikut menari, masa sekarang dengan kerjaan rutin dan hampir pasti terjadwal, saya tidak bisa aktif seperti beberapa bulan lalu…”

Akhirnya, saya pun tertarik ‘meneliti’ sebuah broadcast mengenai beasiswa jurnalis dari Sekolah Jurnalisme AJI yang bekerja sama dengan Danone Indonesia.

Seperti membuat rancangan tesis, saya berangan – angan melakukan peliputan mengenai tema kesehatan dan nutrisi – tema yang disyaratkan oleh panitia seleksi beasiswa.

Angan – angan itu saya tuliskan. Saya juga mengajak kawan saya, seorang videographer untuk jadi partner dalam menempuh beasiswa ini.

Ternyata partner saya, Connie, juga sangat bersemangat. Dia mendorong agar kami tak hanya mengirim proposal tapi juga dummy. Kami membuat video seolah – olah proposal liputan kami sudah terealisasi. 

Video liputan kami tentang obesitas dan malnutrisi. Kami minta izin ke kantor agar diberi kesempatan memanfaatkan waktu sepi di hari kerja untuk melakukan wawancara terhadap dokter ahli gizi – narasumber kunci pada dummy yang kami buat.

Setelah mencari – cari narasumber, akhirnya ada juga dokter yang bersedia kami temui. Lokasi wawancara: di sebuah kafe di Mal Gandaria City. Kami patungan untuk membelikan kopi sang narasumber. (Maaf ya dok, kami sengaja pelit karena ketiadaan dana operasional – belum tentu kami lolos seleksi. hi hi hi).

Setelah wawancara selesai, saya meneliti transkrip dan membuat naskah dummy untuk jadi panduan video editor. Nah, editornya siapa???

Di jalan pulang dari Gandaria City, saya menelpon editor di kantor. Saya dan Connie mengenal dia, karena kami satu tim di futsal putri (another ekstra kurikuler).

Dia mengiyakan untuk membantu mengedit. Editan selesaiiiii hanya dalam waktu 1 jam. Sebagai apresiasi, Connie membelikan sang editor sekotak pisang molen khas Bandung….

Kami pun berhasil mengirimkan karya sebelum waktu yang ditentukan.

Selama meriset, brainstorming, dan akhirnya mewawancarai dokter ahli gizi, saya (dan Connie juga) banyak mendapat wawasan baru. Terutama, karena liputan di bidang kesehatan sangat jarang kami kerjakan.

Di kantor saya, tidak ada desk khusus di bidang kesehatan, tidak ada rubrik kesehatan, dan… selain wabah penyakit dan urusan BPJS Kesehatan,  sangat jarang ada isu kesehatan yang jadi berita nasional.

Padahal, isu kesehatan adalah soal nyawa.

Bicara malnutrisi, Indonesia di mata dunia masih tertunduk malu karena masih maraknya stunting. Pemberantasan stunting (kurang gizi) masih jadi program strategis Kemenkes.

Di satu sisi kurang gizi, di sisi lain, ternyata obesitas juga jadi ancaman nyata. Menurut dokter ahli gizi, kebiasaan makan enak mendorong lonjakan orang – orang dengan obesitas.

Memang, untuk ukuran ASEAN, obesitas di Indonesia masih rendah dibanding Malaysia, Thailand, Singapura. Tapi, obesitas adalah pintu masuk untuk komplikasi penyakit: diabetes, jantung, dan penyakit katastropik lainnya – penyakit yang selalu jadi penyebab kematian teratas di Nusantara..

SAM_9088.JPG
Saat sharing session 13 Maret 2017 di Bakoel Koffie bersama penerima beasiswa HNJA 2017. Di samping saya ada Mbak Febby Siahaan, jurnalis senior, mentor, sekaligus ‘kepala sekolah’ HNJA. Difoto oleh Connie Pacifica.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s