Satu tahun bekerja di asosiasi

Setelah melepas karir jadi wartawan, saya “lompat pagar” ke profesi lain. Menjadi secretariat manager di sebuah asosiasi bernama Singapore Chamber of Commerce Indonesia (SCCI).

Saat dipanggil untuk interview, saya masih meraba-raba apa sih chamber of commerce itu.

Saya sudah sempat baca-baca di website resmi SCCI tapi baru dapat gambaran jelas waktu nanya-nanya ke Pak Sam, recruiter saya.

Saya kira, pekerjaan ini baru, hanya melibatkan segelintir orang, dan seterusnya. Sampai akhirnya pada bulan September 2018, tiga bulan setelah saya bekerja, saya hadir ke event yang diadakan oleh British Chamber of Commerce Indonesia (BritCham).

Acara Britcham itu berkolaborasi dengan chamber of commerce (coc) dari negara lain tang juga berbasis di Indonesia.

Ternyata, untuk COC, BritCham dan AmCham lah yang massa-nya paling banyak sekaligus paling prestisius. Konon, networking event yang diadakan dua COC tersebut bisa jadi sarana lobi.

Balik lagi ke event di bulan September tadi. Saya berkenalan juga dengan staf sekretariat dari COC lain.

COC yang besar punya beberapa staf. Saat itu, hanya saya dan sekretariat dari Malaysia Chamber Jakarta yang sendiri.

Ya, saya sendiri menjalankan sekretariat. Member dan Council Member dari COC adalah mereka yang merupakan profesional ataupun business owner.

Di SCCI, para Council Member alias pengurus asosiasi kebanyakan profesional yang levelnya partner ataupun manager ke atas.

Selama satu tahun, pekerjaan tersibuk saya adalah menjalankan event. Tiap bulan, SCCI menyelenggarakan event, kebanyakan business events.

Kenapa business events?

Karena, saat asosiasi ini dibentuk tahun 2006, kedua negara, Indonesia (diwakili Mendag Mari Elka) dan Singapura (diwakili Dubes Edward Lee) ingin ada asosiasi bisnis untuk mewakili kepentingan kerja sama kedua negara.

Dalam event, SCCI menjadi perantara kepada pelaku bisnis kedua negara untuk punya wawasan mengenai situasi bisnis terkini, regulasi, proyeksi–serta, membuka kesempatan para hadrin untuk melakukan networking.

Sejauh yang saya amati, networking session ini memang basa-basi, tapi ada saja inisiatif dan bahkan bisnis baru yang tercipta dari kenal-kenalan dan ngobrol-ngobrol di sesi networking.

Saya pun akhirnya mengidentifikasi wajah-wajah pelaku bisnis dan memetakan sesuai industri mereka. Ada beberapa figur anak muda Singaporean yang berani merantau ke Jakarta untuk memulai bisnis baru. Ada yang baru 26 tahun sudah jadi CEO di perusahaan cryptocurrency. Ada pula yang baru 30-an tapi sudah jadi partner di lawfirm, sekaligus jadi venture capitalist dan jadi ekspert di bidang hukum dan teknologi. Pokoknya inspirasional.

Saya selalu ditanya alamat kantor

“Kerja di mana?”

“SingCham”

“Apa itu?”

“Singapore Chamber of Commerce Indonesia”

“Wah keren ya. Kantornya di mana?”

At this point, saya akan jawab “alamat surat-menyurat sih di Kedutaan Besar Singapura, di Kuningan”.

Iya, asosiasi tempat saya bekerja menaruh alamat Kedubes. Tapi, saya tidak punya meja di sana.

Saya dibolehkan kerja remote, alias kerja dari mana saja.

“Wah, enak banget kerja remoteeeee”Memang enak, tapi tidak enak banget (kuceritakan di post lain).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s